Era Fenomenal Legenda Iwan Fals

Iwan Fals: 4 Era Fenomenal Sang Legenda

Mungkin bagi era generasi Z atau generasi Sandwich mengenal nama Iwan Fals sebagai seniman kanvas atau pelopor kegiatan menanam pohon. Namun jauh dari itu, ada era generasi milenial yang merasakan lebih dari itu. Iwan Fals telah melakukan perjalanan karir dari usia muda, 10 tahun. Berbagai era jatuh bangun, hiatus, comeback, hingga menuju legacy di usia yang tidak muda lagi.

Kini, sang legenda mulai menjalani kegiatan yang berbeda, tetap berkarya namun berbeda cara. Bagi kamu yang belum mengenal Iwan Fals, di artikel ini akan menjelaskan perjalanan karir sang legenda sampai saat ini.

Siapa itu Iwan Fals?

Virgiawan Listanto atau Iwan Fals lahir pada 3 September 1961, seorang penyanyi, musisi, pencipta lagu sekaligus kritikus legendaris di Indonesia. Dengan gaya bermusik pop, rock, country, dan folk pop di era 1970 hingga 1980-an bercerita tentang politik. Sehingga mencatatkan diri ke dalam daftar The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Sejarah versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Kota Bandung, meski ia pernah ikut keluarga untuk tinggal beberapa saat di Jeddah, Arab Saudi. Bakat bermusiknya mulai lahir di usia 13 tahun—saat menghabiskan waktu masih menjadi pengamen jalanan di Kota Bandung. Bakatnya semakin terasah ketika berada di Sekolah Menengah—Iwan Fals menjadi gitaris dalam paduan suara sekolah. Seiring berjalannya waktu ia pun terus melatih kemampuan bermain gitar dan menciptakan lagu.

Kecintaan terhadap musik dan karya membawa Iwan Fals muda mendapat tawaran produser musik untuk mengadu nasib di Jakarta. Rekaman album pertama pun terwujud, bersama rekan-rekan musisi yang tergabung dalam “Amburadul”, yaitu Helmi Bahfen, Bambang Bule, dan Toto Gunarto. Meski album resmi pertama tersebut tidak laku di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi pengamen, tetapi album ini sekarang menjadi buruan para kolektor serta fans fanatik Iwan Fals.

Mengenal Era Fenomenal Sang Legenda

Karir Iwan Fals terbagi dalam 4 era fenomenal, yaitu:

The “Sarjana Muda” Era

Sejak awal berkarya, Iwan kerap menyuarakan isu sosial politik yang terjadi di Indonesia, khususnya sebelum era reformasi. Lagu-lagu seperti “Wakil Rakyat”, “Tikus-Tikus Kantor”, hingga “Manusia Setengah Dewa” adalah lagu-lagu yang memang diciptakan untuk mengkritik pemerintahan. Selain isu terkait politik dan pemerintahan, Iwan juga menciptakan karya lagu bertemakan sosial dan lingkungan hidup, seperti “Pohon Untuk Kehidupan”, “Siang Seberang Istana”, hingga “Senandung Istri Bromocorah”.

Iwan Fals akhirnya dipinang Musica Studios guna menggarap salah satu album besar berjudul 'Sarjana Muda' (1980). Album era yang sangat populer di pasaran. Single-single seperti 'Sarjana', 'Oemar Bakri', dan '22 Januari', menjadi hits yang diperdengarkan di berbagai kanal radio di seluruh Indonesia. Setelah eksistensi di album tersebut, Iwan pun berkesempatan untuk tampil di program televisi pada era '80-an.

Periode satu dekade (1980-1990) adalah masa terproduktif sang legenda, dimana ia banyak merilis lagu yang menggambarkan kondisi sosial di Indonesia, seperti lagu “Galang Rambu Anarki”, “Celoteh Camar Tolol dan Cemar”, hingga “Barang Antik”.

Kemudian saat bergabung dengan SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan hits Bento dan Bongkar. Dalam lirik lagu “Ethiopia”, dia menunjukkan perhatian terhadap bencana kelaparan yang pernah melanda di berbagai negara termasuk Afrika pada tahun 80-an. Ia meraih juara I Festival Musik Country (1980). lagu Oemar Bakri, Gold Record dari PT Musica Studio. Silver records, penyanyi & pencipta lagu Ethiopia, PT Musica Studio’s. Penyanyi Pujaan, BASF (1989). The Best of Selling album Mata Dewa (1988 – 1989).

Selain berprestasi di dunia seni dan hiburan, Iwan Fals ternyata sempat aktif di kegiatan olahraga, dengan meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional dan Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989. Iwan Fals juga masuk pelatnas dan jadi pelatih cabang karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Di era fenomenal itu juga membuat Iwan Fals menjadi kolumnis di beberapa tabloid olahraga.

The ”Bongkar-Bento” Era

Jelang era '90-an, Iwan belum berhenti melawan. Dua single kembali menyentil pemerintah yang ramai menggerakkan massa kala itu adalah lagu hits 'Bento' dan 'Bongkar'.

Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 dan berhasil mengadakan konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Pemilihan yang tepat ketika bergabung dengan sebuah grup musik besar di industri hiburan Indonesia era '90-an. Di era ini tidak hanya menghasilkan lagu yang apik, bersama Kantata Takwa, mereka menjelma menjadi ruang diskusi yang membicarakan serta kreativitas, isu-isu kontekstual, dan sensitivitas sosio-estetik.

Saat karirnya melejit, Iwan Fals dirundung kabar duka, anak pertamanya bernama Galang Rambu Anarki meninggal dunia pada tahun 1997. Sejak saat itu ia sempat berhenti dari dunia musik. Hingga era 2000-an awal Iwan Fals baru kembali dengan warna bermusik yang cukup berbeda dari sebelumnya. Dia tidak segarang dan tidak seliar dahulu. Lirik-lirik lagunya lebih mendalam dan religius.

*Setelah Meninggalnya Galang Rambu Anarki, Iwan Fals Mendirikan Sebuah Ormas Berbentuk Fans yaitu OI (Orang Indonesia)—yang menjadi fanbase terbesar di Indonesia.

Pasca era Orba Iwan Fals:

Tema-tema cinta dan sosial memang mendominasi lagu-lagu Iwan ketika era Orde Baru, sementara isu politik dan lingkungan justru tidak banyak ditampilkan oleh Iwan dalam lagu-lagunya. Hal ini yang kemudian menjadi menarik, ketika Orba tumbang–pasca 1998, lagu-lagu Iwan lebih didominasi oleh lagu-lagu politik, terutama dalam album Manusia Setengah Dewa yang dirilis pada tahun 2004.

The “Come Back” Era

Tahun 2002, Iwan mulai aktif kembali membuat album. Bangkit dari munculnya album “Suara Hati” yang banyak bercerita tentang Galang. Istrinya pun terlibat menyumbangkan suara dalam karyanya. Dalam album “Suara Hati”, terdapat lagu emosional Iwan Fals berjudul "Hadapi Saja" yang mengisahkan tentang perasaan seorang ayah saat kehilangan putranya.

Sebelum ia kembali produktif dan aktif merilis beberapa album seperti "Manusia Setengah Dewa" (2004), "Iwan Fals in Love" (2005), dan "Untukmu Terkasih" (2009).

Berselang setahun setelah melempar album In Collaboration With, bersama musisi-musisi muda tanah air seperti Eross, Pongky, Piyu, dan Ahmad Dhani, Iwan berusaha menyeimbangkan genre lagunya.

Prestasi bermusik Iwan di era ini cukup cemerlang, ia berhasil menyabet penyanyi solo terbaik Country/Balada AMI Sharp Award (2000), Triple Platinum Award, Album Best Of The Best Iwan Fals, PT Musica Studio’s (2002), Asian Heroes (2002), Penyanyi Pop Ngetop SCTV Music Award (2004), dan album pop solo ngetop Fals In Love (2005).

The “Legacy” Era

Iwan Fals mengadakan Konser Suara Untuk Negeri bersama sebuah stasiun televisi. Konser yang diadakan di 4 kota Indonesia yaitu Medan, Bandung, Jakarta dan Surabaya menjadi pembuktian kepada dunia dengan menciptakan rekor internasional dari Guinness Book of World Record.

Saat ini, Iwan telah berusia 61 tahun dan masih terus mengudara menjadi penggembala para Orang Indonesia atau OI, sebutan untuk fans dirinya. Sudah 40 album yang tercipta dengan total 380++ lagu.

Album “Pun Aku” sekaligus menjadi cara baru Iwan Fals dalam merayakan ulang tahunnya yang ke-60 yang menjadi kado istimewanya. Di dalam album tersebut, Iwan telah menaruh lagu berjudul “Selamat” yang dalam liriknya terdapat ucapan doa dan kalimat semangat di hari ulang tahunnya maupun buat para pendengar yang merayakannya.

Setelah Era Bermusik, Iwan Fals Tetap Ada

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Iwan Fals bukan hanya pandai bernyanyi, menciptakan lagu, atau memainkan alat musik. Lebih luas ketika mengenal sang legenda satu ini, tentu kreativitas dan imajinasi bersatu membuat karya yang indah. Sampai hari ini sudah ada 133 lukisan yang telah dibuatnya, serta telah memamerkan lebih dari 60 lukisan ke publik melalui program Galeri Suara Hati.

Bukan cuma itu, kegiatan menginspirasi juga ia gaungkan, yaitu kegiatan peduli alam dengan mengkampanyekan cara menanam pohon, serta memiliki yayasan untuk donasi. Terbaru di era pandemi 2021, dalam membantu penanganan Pandemi Covid-19, Iwan Fals melelang karya lukisannya itu dan dibeli oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Sandiaga Uno. Hingga lelang dimenangkan dengan nilai tertinggi Rp 500 juta oleh mantan wakil Gubernur Jakarta.

Melihat jejak era fenomenal sang legenda Iwan Fals, sayang rasanya kalau tidak menciptakan sebuah memorabilia untuk dirinya dan penggemar—yang dikenal dengan sebutan OI (Orang Indonesia). Bagaimana tanggapanmu? Yuk, beri dukungan terhadap FanGir agar bisa memberikan produk dan layanan terbaik untuk para kolektor, bisnis, fans fanatik, hingga masyarakat umum untuk memilikinya secara mudah dan eksklusif.

Kembali ke blog